Kewajiban Menunutut Ilmu

Barangsiapa menempuh jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan mudahkan baginya jalan menuju Surga. Tidaklah suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman akan turun atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya…”

Ilmu yang dimaksud adalah ilmu syar’i, yaitu ilmu yang diturunkan oleh Allah kepada Rasul-Nya berupa keterangan dan petunjuk. Jadi, ilmu yang dipuji dan disanjung adalah ilmu wahyu, yaitu ilmu yang diturunkan oleh Allah . Nabi bersabda :

“Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, Dia akan menjadikannya faham tentang agama. Sesung­guhnya aku hanyalah yang membagikan dan Allah-lah yang memberi. Dan ummat ini akan senantiasa tegak di atas perintah Allah, mereka tidak bisa dicelakai oleh orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datangnya keputusan Allah (hari Kiamat).”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah (wafat th. 728 H) mengatakan, “Ilmu adalah semua apa yang dibangun di atas dalil, dan ilmu yang bermanfaat adalah ilmu yang dibawa oleh Rasulullah . Terkadang ada ilmu yang bermanfaat yang tidak berasal dari Rasulullah , namun hanya dalam urusan duniawi, seperti ilmu kedokteran, ilmu hitung, ilmu pertanian dan ilmu perdagangan.

Imam Ibnu Rajab (wafat th. 795 H) mengatakan, “Ilmu yang bermanfaat membimbing kepada dua hal. Pertama, mengenal Allah dan segala yang menjadi hak-Nya berupa nama-nama yang indah, sifat-sifat yang mulia, dan perbuatan­perbuatan yang agung. Ilmu ini menyebabkan adanya pengagungan, rasa takut, cinta, harap dan tawakkal kepada Allah serta ridha terhadap takdir dan sabar atas segala musibah yang Allah berikan. Kedua, mengetahui segala yang diridhai dan dicintai Allah dan menjauhi segala yang dibenci dan dimurkai-Nya berupa keyakinan, perbuatan fisik dan bathin serta ucapan. Ilmu ini menuntut orang yang mengetahuinya agar bergegas melakukan apa yang dicintai dan diridhai Allah dan menjauhi segala yang dibenci dan dimurkai-Nya. Apabila ilmu itu menghasilkan dua hal ini bagi pemiliknya, maka inilah ilmu yang bermanfaat. Kapan saja ilmu itu bermanfaat dan menancap di dalam hati, maka sungguh, hati itu akan merasa khusyu’, takut, tunduk, mencintai dan mengagungkan Allah , jiwa merasa cukup dan puas dengan sesuatu yang halal meski sedikit dan merasa kenyang dengannya. Ini menjadikannya qana’ah dan zuhud terhadap dunia.”

Ibnu Rajab (wafat th. 795 H) , juga berkata, “Ilmu yang paling utama adalah ilmu tafsir al-Qur­an, penjelasan makna hadits-hadits Nabi, dan pembahasan tentang masalah halal dan haram yang diriwayatkan dari para Shahabat, Tabi’in, Tabi’ut Tabi’in dan para imam terkemuka yang mengikuti jejak mereka.”

Imam al-Auza’i (wafat th. 157 H) berkata, “Ilmu itu apa yang dibawa dari para Shahabat Nabi Muhammad , adapun yang datang dari selain mereka bukan ilmu”.

Imam Ibnul Qayyim dalam I’lamul Muwaqqi’in (2/149) mengatakan, “Sebagian ahli ilmu mengatakan, “Ilmu adalah firman Allah, sabda Rasulullah dan perkataan para Shahabat. Semuanya tidak bertentangan…”

Berjalan menuntut ilmu” mempunyai dua makna. Pertama, menempuh jalan dengan makna fisik, yaitu berjalan kaki menuju majelis-majelis para ulama. Kedua, menempuh jalan (metode) yang bisa mengantarkan seseorang untuk mendapatkan ilmu seperti menghafal, belajar (sungguh-sungguh), membaca, menela’ah kitab-kitab (para ulama), menulis, dan berusaha untuk memahami (apa-apa yang dipelajari).

Sedangkan “Allah akan memudahkan jalannya menuju Surga” mempunyai dua makna. Pertama, Allah akan memudahkan masuk surga bagi orang yang menuntut ilmu dengan tujuan mencari wajah Allah, untuk mendapatkan ilmu, mengambil manfaat dari ilmu syar’i dan mengamalkan konsekuensinya. Kedua, Allah akan memudahkan baginya jalan ke Surga pada hari kiamat ketika melewati “shiroth” dan dimudahkan dari berbagai ketakutan yang ada sebelum dan sesudahnya. Wallaahu a’lam.

Ini seperti firman Allah , yang maknanya, “Dan sungguh, telah Kami mudahkan al-Quran untuk peringatan, maka adakah orang yang mau mengambil pelajaran ?” (QS. al-Qamar/54:17)

Salah seorang ulama Salaf berkata, “Maksud ayat di atas, “Adakah penuntut ilmu sehingga ia akan dibantu dalam mencarinya?” Bisa jadi yang dimaksud sabda Nabi , di atas ialah Allah memberi kemudahan kepada penuntut ilmu jika ia menuntutnya dengan niat mendapatkan wajah Allah, mengambil manfaat darinya, dan mengamalkan konsekuensinya. Jadi, ilmu menjadi penyebab ia mendapatkan petunjuk dan masuk surga.

Allah berfirman, yang artinya, “Sungguh, telah kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menjelaskan. Dengan kitab itulah Allah memberi petunjuk kepada orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang itu dari gelap gulita kepada cahaya dengan izin-Nya, dan menunjuk ke jalan yang lurus.”

Nabi mengumpamakan para pengemban ilmu (para Ulama) seperti bintang-bintang di langit yang dijadikan sebagai petunjuk dalam kegelapan. Jika bintang-bintang itu hilang dan sirna, maka alam semesta akan mengalami kehancuran. Jika ilmu syar’i tetap ada di tengah manusia, maka manusia senantiasa berada di atas petunjuk. Dan ilmu itu tetap ada selama para Ulama masih ada. Jika para Ulama dan orang-orang yang mengamalkannya sudah tidak ada lagi, maka manusia akan terjatuh dalam kesesatan. Rasulullah , bersabda, yang artinya, “Sesungguhnya Allah Ta’ala tidak mencabut ilmu dari para hamba sekaligus, akan tetapi Dia mencabut ilmu dengan mewafatkan para ulama. Sehingga, apabila sudah tidak ada lagi seorang yang alim, manusia akan mengangkat para pemimpin yang bodoh, mereka ditanya lalu berfatwa tanpa ilmu, maka mereka sesat dan menyesatkan orang lain.”

Ubadah pernah memberitahukan bahwa ilmu yang pertama kali diangkat dari manusia adalah kekhusu’an. Ubadah bin ash-Shamit mengatakan seperti itu karena ilmu itu ada dua jenis. Pertama, ilmu yang buahnya ada di hati manusia. Ilmu ini adalah ilmu tentang Allah, nama-nama-­Nya, sifat-sifat-Nya, perbuatan-perbuatan-Nya yang menjadikan orang takut kepada Allah, segan kepada-Nya, mengagungkan-Nya, tunduk kepada­Nya, mencintai-Nya, berharap kepada-Nya, berdo’a kepada-Nya, bertawakkal kepada-Nya, dan lain sebagainya. Itulah ilmu yang bermanfaat. Kedua, ilmu di lidah. Itulah hujjah Allah bagimu atau atasmu. Jadi, i1mu.yang pertama kali diangkat ialah ilmu batin yang menyatu dengan hati dan memperbaikinya. Sedang yang tersisa ialah ilmu di lidah manusia; para ulama atau selain mereka, menyia-nyiakannya dan tidak mengamalkannya. Kemudian ilmu hilang dengan kematian para ulama, akibatnya, al-Qur’an hanya ada di mushhaf tanpa ada yang mengerti makna-maknanya, batasan-batasannya dan hukum-­hukumnya. Hal tersebut berkembang terus hingga akhir zaman kemudian tidak ada yang tersisa di mushaf dan hati. Setelah itu, kiamat terjadi.

Ini menunjukkan duduk di masjid-masjid untuk membaca al-Qur’an dan mempelajarinya disunnahkan. Jika pengertian hadits diatas dibawa ke makna mempelajari dan mengajarkan al-Qur’an, maka semua Ulama’ sepakat bahwa itu disunnahkan. Rasulullah bersabda : “Sebaik-baik kalian adalah orang yang belajar dan mengajarkan Al-Qur’an”.

Abu ‘Abdurrahman as-Sulami berkata, “Inilah yang membuatku duduk di tempat dudukku ini.” Beliau mengajarkan al-Qur’an sejak zaman ‘Utsman bin ‘Affan hingga zaman al-Hajjaj bin Yusuf.

Jika sabda beliau ini dipahami dengan makna yang lebih umum maka ini mencakup berkumpul di masjid-masjid untuk mempelajari al-Qur’an secara mutlak, karena terkadang Nabi menyuruh seseorang membacakan al-Qur’an agar beliau dapat mendengarkan bacaannya, sebagaimana beliau pernah menyuruh Ibnu Mas’ud agar membacakan al-Qur’an untuk beliau.

‘Umar bin Khaththab pernah menyuruh seseorang membacakan al-Qur’an untuknya dan untuk rekan-rekannya. Mereka semua mendengarkannya. Terkadang Umar menyuruh Abu Musa dan terkadang menyuruh ‘Uqbah bin Amir .

Sebagian besar Ulama berpendapat bahwa berkumpul untuk mempelajari al-Qur’an itu disunnahkan. Mereka berdalil dengan hadits-hadits yang menunjukkan berkumpul untuk berdzikir itu sunnah, sementara membaca dan mempelajari al-Qur’an adalah dzikir terbaik.

Diriwayatkan dari Mu’awiyah bahwa Rasulullah keluar ke salah satu halaqah Shahabat­-Shahabat beliau kemudian bersabda, “Apa yang membuat kalian duduk?” Mereka menjawab, “Kami duduk untuk berdzikir kepada Allah dan memuji-Nya karena Dia telah memberi kami petunjuk kepada Islam dan menganugerahkan nikmat kepada kami.” Beliau bersabda, “Demi Allah, apakah kalian duduk karena itu semua?” Mereka menjawab, “Demi Allah, kami tidak duduk kecuali karena tujuan tersebut.” Beliau bersabda, “Sesungguhnya aku tidak meminta kalian bersumpah karena menuduh kalian, karena Jibril telah datang kepadaku kemudian memberitahuku bahwa Allah membanggakan kalian kepada para malaikat.”

Hadits-hadits yang semakna dengan ini banyak. Hadits-hadits ini menunjukkan bahwa mereka berdzikir masing-masing, tidak berjamaah dan tidak juga dengan suara yang keras. Jadi, hadits-hadits di atas dan yang semakna dengannya tidak menunjukkan adanya dzikir berjamaah. Karena dzikir jama’i tidak pernah dicontohkan oleh Nabi dan para Shahabatnya. Bahkan Abdullah bin Mas’ud menegur dengan keras orang yang berdzikir jama’i sebagaimana disebutkan dalam riwayat yang Shahih.

Nabi menjelaskan bahwa pahala orang yang duduk di salah satu rumah Allah (masjid) guna mempelajari al-Qur’an ada empat:

1. Ketenangan turun kepada mereka. Diriwayatkan dari al-Bara’ bin ‘Azib ia berkata, “Ada seseorang membaca Surat al-Kahfi dan di sampingnya terdapat kuda kemudian ia ditutupi awan. Awan itu berputar-putar dan mendekat hingga kuda orang itu lari dari awan tersebut. Keesokan harinya, orang tersebut menghadap Rasulullah dan menceritakan kejadian itu. Beliau bersabda : “Itulah ketenangan yang turun bagi al-Qur’an”. Kejadian serupa juga dialami oleh Usaid bin Khudair.

2. Diliputi rahmat. Allah berfirman, yang artinya, “… Sesungguhnya rahmat Allah dekat dengan orang-­orang yang berbuat baik.” (QS. al-A’raf/7: 56)

3. Paramalaikat mengelilingi mereka.

4. Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya. Rasulullah bersabda, “Aku sesuai dugaan hamba-Ku terhadap-Ku dan Aku bersamanya ketika ia berdzikir kepada-Ku. Jika ia ingat (dzikir) kepada-Ku sendirian maka Aku ingat kepadanya sendirian dan jika ia ingat (dzikir) kepada­Ku di kelompok maka Aku ingat kepadanya di kelompok yang lebih baik daripada mereka.

Bentuk ingatnya Allah kepada hamba-Nya ialah Allah memujinya dihadapan para malaikat, membanggakannya. Allah Ta’ala berfirman, yang artinya, “Wahai orang-orang yang beriman! Berdzikirlah kalian kepada Allah sebanyak-banyaknya. Dan bertasbihlah kepada-Nya di waktu pagi dan petang. Dialah yang bershalawat kepada kalian dan malaikat-Nya supaya Dia mengeluarkan kalian dari kegelapan kepada cahaya. Dan Allah itu Maha Penyayang terhadap kaum Mukminin” (QS. al-Ahzab/33:41-43)

Bentuk shalawat Allah kepada hamba-­Nya ialah Allah menyanjungnya dihadapan para malaikat-Nya dan memujinya dengan ingat kepadanya. Itulah yang dikatakan oleh Abul ‘Aliyah dan disebutkan oleh Imam Bukhari dalam kitab Shahihnya.

Huwallahu A’lam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s