Berlebihan dalam Beragama (bag.3-habis)

C. Hadits-hadits tentang celaan terhadap Khowarij

Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Sesungguhnya dia (Dzul Khuwaisiroh) memiliki pengikut, dan salah seorang diantara kalian akan diremehkan sholat dia dibandingkan dengan sholat mereka, dan puasa dia dibandingkan dengan puasa mereka. Kemudian Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam melihat kepada Dzul Khuwaisiroh kemudian berkata: Sungguh akan muncul dari anak cucu orang ini suatu kaum yang membaca Al Qura’an (dengan banyak), tetapi bacaan Qur’an ini tidak sampai pada tenggorokannya. Mereka keluar dari agama sebagaimana keluarnya anak panah dari busurnya dan mereka akan keluar ketika terjadi perpecahan kaum muslimin, kalau seandainya saya bertemu dengan mereka maka akan aku bunuh mereka sebagai mana kaum Ttsamud di bunuh“. dalam riwayat yang lain “Mereka selalu membunuh orang-orang Islam dan membiarkan orang-orang Musrik, kalau saya bertemu dengan mereka maka akan kubunuh sebagaimana kaum ‘Ad di bunuh”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Ali bin Abi Tholib radiyallahu ‘anhu bahwa Rosululloh  shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Akan keluar di akhir zaman suatu kaum yang masih muda belia dan pendek pemikiran mereka, mereka mengatakan perkataan manusia yang paling mulia (yang dhohir), mereka membaca Al Qura’an tetapi bacaannya tidak sampai tenggorokannya, mereka keluar dari Islam sebagimana keluarnya anak panah dari busurnya, barang siapa yang mendapatkan mereka maka hendaknya membunuh mereka, karena orang yang membunuh mereka akan mendapatkan pahala disisi Alloh”. (HR. Bukhori dan Muslim).

Dari Abu Dzar radiyallahu ‘anhu, Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Khowarij adalah merupakan sejelek-jeleknya makhluk”. (Shohih Ibnu Majah:178).

Dari Abi Gholib rahimahullah berkata: “Abu Umamah radiyallahu ‘anhu melihat kepala-kepala manusia (orang khowarij) ditancapkan ditangga masjid Damaskus. Maka Abu Umamah radiyallahu ‘anhu berkata: Mereka adalah anjing-anjing neraka, sejelek-jelek orang mati dibawah langit, dan sebaik-baik orang mati adalah orang yang mereka bunuh, kemudian membaca ayat (pada hari yang diwaktu itu ada muka yang putih berserih, dan ada pula muka yang hitam buram) Ali Imron:106, aku berkata kepada Abu Umamah radiyallahu ‘anhu. Apakah kamu mendengarnya dari Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam? Beliau berkata, tidaklah saya mendengar kecuali sekali, dua kali, tigak kali, empat kali, lima kali, enam kali, tujuh kali maka saya tidak mungkin mengabarkan hadits ini kepada kalian”. (Shohih Tirmidzi:3199).

 

D. Pemikiran kelompok Khowarij.

Kami sebutkan sebagian pemikiran Khowarij secara ringkas, karena perinciannya membutuhkan waktu yang panjang. Diantara pemikiran dan ciri-ciri mereka:

  1. Mengkafirkan orang Muslim disebabkan dosa besar dan memasukannya kedalam golongan orang-orang Kafir.
  2. Memberontak kepada pemerintahan yang bukan dari kelompok mereka, sekalipun yang memimpin Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam atau para sahabatnya sebagaimana yang dilakukan oleh pencetus kelompok ini.
  3. Memerangi kaum muslimin yang bukan dari kelompok mereka dan bermuamalah bersama mereka seperti bermuamalah dengan orang Kafir serta menghalalkan darah dan harta mereka.
  4. Memalingkan dalil-dalil yang berkaitan dengan Amar Ma’ruf Nahi Munkar kepada amalan pemberontakan dan penggulingan pemerintahan dan memerangi orang yang menyelisihi mereka.
  5. Diikuti oleh kebanyakan para pemuda belia yang dangkal keilmuan  agamanya.
  6. Memiliki sikap berlebihan di dalam beragama bersamaan dengan tampaknya tanda-tanda ibadah secara dhohir seperti Sholat, Puasa, zuhud dan wara’.
  7. Memerangi dan membunuh orang muslim, akan tetapi  membiarkan orang-orang kafir dan musyrik.

E. Sebab-sebab munculnya kelompok khowarij.

  1. lemahnya pemahaman dan kurangnnya ilmu agama ditambah lagi dangkalnya dalam memahami nash-nash Al-Qur’an. Sebagaimana digambarkan oleh Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam (mereka membaca Al Qur’an tetapi tidak sampai kekerongkongan mereka. –tidak memahaminya-).
  2. Jauhnya mereka dari para ulama sebagaimana perkataan Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu: “Dan tidak ada seorang pun dari sahabat Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam yang bersama kalian”.
  3. Menganggap diri mereka lebih berilmu dari para ulama, sampai mereka menganggap bahwa mereka lebih berilmu dari pada Abdullah bin Abbas, Ali bin Abi Tholib radiyallahu ‘anhuma dan semua para sahabat.
  4. Kerancuan mereka dalam menggunakan dalil, karena mereka berlebihan dalam mengambil ayat-ayat yang berisi ancaman dan meninggalkan selainnya. Mereka berdalil dengan ayat-ayat yang berkaitan dengan orang-orang kafir kemudian meletakan ayat-ayat ini kepada orang-orang muslim yang menyelisihi mereka. Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhuma berkata: “Mereka menggunakan ayat-ayat yang berkaitan dengan orang kafir kemudian menggunakannaya kepada orang-orang muslim”. (HR. Bukhori:12/282, Fathul Bari).
  5. mereka hanya mencukupkan diri dengan dalil-dalil Al Qur’an dan menolak  Hadits hadits Rosulolloh shalallahu ‘alaihi wa salam.
  6. Tergesa-gesa dalam menghukumi orang yang menyelisihi mereka. (Lihat Al Khowarij Awalul Firoq fi Tarikh Islam:37-44 oleh Doctor Nasir bin Abdul Karim Al Aql).

F. Berkembangnya pemahaman Khowarij masa kini

Sesungguhnya pemikiran dan Aqidah Khowarij senantiasa bermunculan dan berkembang di zaman-zaman terakhir.

Syaikhul Islam rahimahullah berkata ketika menjelaskan tanda-tanda Dzul Khuaisiroh (pencetus kelompok Khowarij): “Dan ciri-ciri orang ini yang telah digambarkan oleh Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam adalah sebagai orang pertama kali yang keluar dengan pemahaman seperti ini, tetapi pemahaman ini tidak terbatas dengan mereka (Khowarij zaman dulu), karena Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam telah mengabarkan didalam hadits yang banyak bahwasannya mereka senantiasa akan muncul sampai pada zaman keluarnya Dajjal, dan kaum Muslimin telah sepakat bahwa Khowarij tidak terbatas dengan kelompok  yang memerangi Kholifah Ali bin abi tholib radiyallahu ‘anhu.” (Majmu’ Fatawa:28/490-496).

Sedangkan salah satu organisasi zaman sekarang yang sangat nampak dalam pembelaan dan menyebarkan Aqidah Khowarij adalah “Jamaatut Takfir wal Hijroh” organisasi ini menamakan dirinya sebagai “Jamaatul Muslimin”.  Jamaah ini muncul di Mesir yang didirikan oleh seorang mahasiswa Universitas di kota Asyot di kuliah pertanian. Nama pendiri jamaah ini adalah Syukri Mustofa, dan dia memulai kegiatannya dengan menjadi anggota organisasi Ikhwanul Muslimin. Kemudian dipenjara pada tahun 1965 M.

Organisasi Ikhwanul Muslimin tidak mengkafirkan seorang muslim yang mengucapkan dua kalimat syahadatain, maka Syukri Mustofa senantiasa bertanya kepada teman-temannya apakah orang-orang yang memenjarakan dan menyiksa seperti ini dikatagorikan Muslim atau Kafir?. Maka hasil dari jawaban pertanyaan ini adalah mereka semua Kafir. Kemudian bertanya tentang penguasa dan pemerintahan, maka jawaban mereka semuanya adalah Kafir. Kemudian bertanya tentang masyarakat yang diam dan ridho dengan hukum orang kafir, maka jawaban mereka semuanya kafir.

Kemudian para tokoh Ikhwanul Muslimin berusaha menghadang dan membantah Syukri musthofa dan pengikutnya, tetapi  justru di kafirkan oleh mereka, dengan dalil Qoidah “Siapa yang tidak mengkafirkan orang Kafir maka dia Kafir“. Kemudian Syukri dengan jama’ahnya sekitar 13 orang mendirikan organisasi bernama Jama’atul Muslimin ketika dipenjara.

Setelah keluar dari penjara tahun 1971 M, Syukri dan jama’ahnya menyebarkan pemikiran Khowarij ini, maka tersebarlah pemikiran ini   yang digemari para pemuda yang memiliki semangat keislaman dan berkembang pesat di Universitas-universitas Islam. Untuk menyebarkan pemikiran ini, maka Syukri dan jama’ahnya menulis kitab dan menyebarkannya dikalangan para pemuda, sampai menurut pengakuannya: karya saya  sekitar 4000 halaman.

Pada tahun 1977 M terjadi perdebatan antara jama’ah ini dengan sebagian ulama Al Azhar, lebih khusus lagi kepada Syaikh Muhammad Husain Ad Dzahabi rahimahullah yang telah menulis kitab untuk membongkar kedok jama’ah ini. Kemudian terjadi penculikan dan pembunuhan Syaikh Adz Dzahabi rahimahullah di kediamannya. Maka jama’ah ini tertuduh sebagai otak pelaku dalam kasus pembunuhan ini.

Pada tanggal 30 November 1977 M, keluar ketentuan dari pemerintah untuk mengeksekusi (huku mati) terhadap Syukri Mustofa. Dengan kejadian ini maka Jama’atul Muslimin dibubarkan dari gerakannya. Ada diantara mereka yang masuk ke dalam gerakan dan organisasi lain, diantara mereka adalah Usamah Sayid Qosim yang tertuduh menculik para penguasa pemerintahan . dan dia serta yang lain memulai gerakannya sebagai anggota jama’ah Takfir wal Hijroh. (lihat Al Firoq wal Jama’at Al lslamiyah Al Muaisiroh:203-206, dan Al Khowarij Awalul Firoq:132-136).


7. PENANGGULANGAN PEMAHAMAN DAN PERBUATAN RADIKALISME

Dalam bagian ini sangatlah perlu kami paparkan solusi, penanggulangan, obat dari berbagai macam penyimpangan radikalisme yang terjadi di dalam beragama hingga menyebabkan peledakan dan pembunuhan. Setiap masalah pasti ada solusinya dan setiap penyakit pasti ada obatnya dan obat yang sesuai dengan penyakitnya maka akan sirna dengan izin Alloh ta’ala. Inilah beberapa faktor yang paling pokok sebagai solusi di dalam radikalisme yang banyak di tulis oleh para ulama di dalam kitabnya;

 

a. Berpengang teguh dengan al qur’an dan as sunnah as shohihah.

Kembalinya seorang muslim kepada Al Quran dan As Sunnah As Shohihah adalah semua jalan keluar dari berbagai permasalahan yang ada.

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Alloh, dan janganlah kamu bercerai berai…..” (Ali Imron:103).

Dari Irbad bin Syariah radiyallahu ‘anhu berkata: “Pada suatu ketika Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam memberikan nasihat kepada kami yang mana nasihat itu sangatlah menyentuh maka bergetarlah hati kami dan berlinanglah air mata kami (para sahabat) maka mereka berkata: wahai Rosululloh seakan-akan ini nasehat perpisahan maka nasehatilah kami, bersabda Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam: Aku wasiatkan kepada kalian untuk bertakwa kepada Alloh, mendengarkan dan taat sekalipun yang memerintahkan kalian adalah seorang budak, karena sesungguhnya akan terjadi dalam kehidupan kalian perselisihan yang sangat banyak maka atas kalian agar berpegang teguh dengan sunnahku dan sunah para Kholifah Ar Rosyidin sesudahku berpegang teguhlah dengannya dan gigitlah dengan gigi geraham dan jauhilah oleh kalian perkara-perkara yang baru (dalam beragama) karena sesungguhnya perkara baru itu adalah perkara bid’ah dan setiap bid’ah itu adalah kesesatan“. (HR. Ahmad, Abu Daud, Tirmidzi dan yang lainnya).

b. Kembali kepada manhaj Salafussholih.

Tidak diragukan lagi bahwa sebab yang paling pokok dari penyimpangan di dalam memahami dan mengamalkan Al Quran dan As Sunnah karena salahnya mereka dalam menjadikan kelompok dan tokohnya sebagai rujukan didalam memahami agamanya. Sedangkan Alloh ta’ala dan Rosul-Nya sudah memberikan jalan yang benar di dalam memahami perkara agama ini dengan kembali merujuk kepada pemahaman Salafusholih yaitu pemahaman para sahabat, tabi’in dan atba’ at tabi’in.

Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda; “Sebaik-baiknya manusia adalah generasiku (para sahabat) kemudian generasi sesudah mereka (tabi’in) kemudian generasi sesudah (atba’ at tabi’in). (HR. Bukhori dan Muslim).

c. Mengambil Ilmu Syar’I dari para ulama Robbaniyun.

Para ulama adalah orang-orang yang harus kita jadikan rujukan di dalam mempelajari ilmu agama karena merekalah orang-orang yang paling faham secara mendalam tentang seluk-beluk permasalahan agama.

d. Mendakwahkan dan menyebarkan ilmu syar’i.

Sesungguhnya diantara sebab penyimpangan pemahaman karena kurang perhatiannya umat terhadap pentingnya ilmu agama yang benar sehingga menyebabkan terjadinya berbagai macam radikalisme yang ada, maka menjadi suatu kewajiban bagi para ulama dan para tholabul Ilmi syar’i untuk senantiasa mendidik, memahamkan dan menyebarkan pemahaman yang benar.

Demikian makalah ini kami hadirkan semoga bisa memberikan manfaat bagi penulis secara pribadi dan umumnya bagi para pembaca, semoga hati kita di bukakan untuk dapat menerima kebenaran dan di mudahkan oleh Alloh ta’ala untuk dapat mengamalkannya di dalam kehidupan kita, Wallohu ‘Alamu Bisshowab.

3 responses to “Berlebihan dalam Beragama (bag.3-habis)

  1. Pingback: Berlebihan dalam Beragama (bag.2) | مؤسسة دار السنة الإسلامية·

  2. Makalah ini sangat baik sebagai pembuka pemahaman al islam, tetapi perlu
    dipikirkan cara penyebarluasan yang lebih luas. Misalnya lebih luasnya sosialisasi web ini kepada web umum, agar umat islam yg tidak familiar dg web islam menjadi lebih familiar. Misalnya joint dengan yahoo, dll. Jazakalloh khoiron katsiro.

    • jazakallah khair akhi…atas saran-sarannya.. kita memang baru ada kendala untuk masalah sosialisasi web karena tidak ada admin khusus yang bisa menangani secara full time… semoga kedepannya bisa lebih baek

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s