Berlebihan dalam Beragama (bag.2)

2. MAKNA RADIKALISME / Ghuluw ((الغُـلـُو

Kata radikal, kekerasan dan kekakuan (الغلو) kembali kepada sebuah kalimat yang bermakna sesuatu yang berlebih-lebihan didalam melampaui batas dan ukuran. Sebagaimana yang dikatakan ibnu faris rahimahullah didalam kitabnya “Mu’jam maqayis Lughah” Sedangakan berlebih lebihan didalam agama yaitu dengan melakukan sesuatu yang melampaui batas dengan kekerasan dan kekakuan, sebagaimana disebutkan oleh Al Jauhari rahimahullah di dalam kitabnya “Ash Shihah” demikian juga disebutkan oleh Ibnu Mandur rahimahullah dalam kitabnya “Lisanul Arab” dan juga Azzubaidi rahimahullah dalam kitabnya ”Taajul ‘Arus”.

Dan kata yang semisal dengan ini (الغلو)/ghuluw yang memiliki makna yang sama sangatlah banyak seperti التطرف, التنطع, التشدد, العنف semuanya memiliki makna yang berhubungan satu dengan yang lainnya yaitu sesuatu yang melampaui batas dan ukuran dalam satu perkara.

 

3. PERINGATAN DARI BAHAYA RADIKALISME.

Sesungguhnya manusia didalam menyambut  seruan dakwah para Nabi dan Rosul bermacam-macam, demikian juga didalam melakukan kebenaran yang dibawanya;

  • Diantara manusia ada yang menyambut seruan dakwah dan berpegang teguh dengan kebenaran.
  • Diantara manusia ada yang menyimpang dengan meremehkan (tafrith) dari ketentuan Alloh ta’ala.
  • Diantara manusia ada yang melampaui batas (ifroth) dari ketentuan Alloh ta’ala.

Semua tingkatan ini ada pada umat-umat yang terdahulu sebelum umat Islam, sehingga kita  diperintahkan oleh Alloh ta’ala untuk senantiasa memohon kepada-Nya berada diatas jalan yang lurus yaitu jalannya orang-orang yang diberi nikmat hidayah dan senantiasa terhindar dari golongan yang menyimpang yaitu al magdhubun (yang dimurkai) dan ad dhoolun (yang sesat), golongan yang melampaui batas dan yang meremehkan didalam agama sebagaimana yang telah disebutkan Alloh ta’ala di dalam surat Al Fatihah.

Dan telah ditegaskan larangan ini di dalam Al Qur’an sebagaimana larangan yang disampaikan kepada ahlul kitab (Yahudi dan Nasrani) dan ini juga merupakan peringatan bagi umat Islam untuk tidak melakukan perkara yang terlarang ini.

“Wahai Ahlul Kitab janganlah kamu melampaui batas dalam agamamu dan jangnlah kamu mengatakan terhadap Alloh kecuali yang benar”. (An Nisa: 171).

“katakanlah: “Hai Ahli Kitab, janganlah kamu berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia), dan mereka tersesat dari jalan yang lurus”. (Al Maidah:77).

Berkata Alhafidz Ibnu Katsir rahimahullah di dalam Tafsirnya: “Alloh ta’ala melarang Ahlul Kitab untuk tidak melampaui batas didalam beragama dan ini banyak dilakukan oleh Nasrani karena sesungguhnya mereka melampaui batas didalam menempatkan kedudukan Nabi Isa ‘alaihis salam sampai melampaui batas yang telah diberikan Alloh ta’ala kepadanya yaitu dengan menempatkan kedudukannya sebagai seorang Nabi menjadi Tuhan yang disembah selain Alloh ta’ala bahkan mereka melampaui batas kepada para pengikutnya dan kelompoknya yang mereka menyangka diatas ajarannya Nabi Isa ‘alaihis salam dan meyakini kema’suman mereka dan mengikuti setiap apa yang mereka katakan baik didalam perkara yang haq maupun batil, sesat maupun petunjuk, benar maupun dusta sebagai mana firman Alloh ta’ala: “Mereka menjadikan pemimpin-pemimpin dan rahib-rahib mereka sebagai Tuhan selain Alloh (At Taubah:31)”, (Tafsir Ibnu Katsir 1/589).

Dan didalam hadits-hadits Roululloh shallallahu ‘alaihi wa salam terdapat larangan dari perbuatan yang melampaui batas didalam perkara agama.

عن أنس بن مالك رضي الله عنه أن رسول الله صلى الله عليه وسلم  يقول : (لا تشددوا على أنفسكم فيشدد الله عليكم, فإن قوما شددوا على أنفسهم فشدد الله عليهم, فتلك بقاياهم في الصوامع والد يا را ت رهبانية ابتدعوها ما كتبنا عليهم. (رواه أبوداود)

Artinya: dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu bahwasannya Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Janganlah kalian menyusahkan diri kalian maka Alloh akan menyusahkan atas kalian, maka sesungguhnya suatu kaum yang menyusahkan diri mereka maka Alloh akan menyusahkan terhadap mereka, dan tinggalnya mereka di tempat-tempat peribadatan dengan beribadah yang melampaui batas yang tidak  di tetapkan atas mereka”. (HR. Abu Daud).

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “Celakalah orang-orang yang melampaui batas”(Diucapkan sebanyak tiga kali). (HR. Muslim).

Berkata Imam An Nawawi rahimahullah didalam hadits ini: “Celakalah orang-orang yang melampaui batas atau orang-orang yang melebihi batas ketentuan syariat didalam perkataan dan perbuatan mereka”. (Syarh Muslim:17/220).

عن عبد الله بن عباس رضي الله عنه قال: قال لي رسول الله صلى الله عليه وسلم : إياكم والغلو في الدين, فإنما أهلك من كان قبلكم الغلو في الدين. (رواه أحمد و ا بن خزيمة والحاكم)

Artinya: “Jauhilah kalian dari perkara yang melampaui batas didalam agama, maka sesungguhnya telah celaka orang-orang sebelum kalian yang melampaui batas didalam perkara agama.” (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Hakim).

4. MACAM-MACAM RADIKALISME (الغلو).

Sesungguhnya ghuluw di dalam beragama bukanlah merupakan satu macam atau satu tingkatan akan tetapi terdiri dari beberapa tingkatan sesuai dengan perbedaan yang berkaitan dengan perbuatan-perbuatan para pelakunya sebagaimana disebutkan oleh Syaikhul islam Ibnu Taimiyah rahimahullah di dalam kitabnya “Iqtidha shiratal mustaqim” bahwa ghuluw dibagi menjadi dua macam:

a. Ghuluw Al Kulli Al I’itiqodi (الغلو الكلي الإعتقادي)

Yaitu sesuatu yang melampaui batas yang berkaitan dengan perkara syari’at secara keseluruhan dan permasalah-permasalahan aqidah seperti ghuluw di dalam wala’ dan baro’, ghuluw terhadap para imam yang dianggap ma’shum, ghuluw terhadap masyarakat yang melakukan kema’siatan seperti di dalam masalah pengkafiran para pelaku maksiat. Dan macam ghuluw ini adalah paling berbahaya dibandingkan dengan macam yang lainnya karena ghuluw ini menyebabkan kepada kehancuran bagi individu dan masyarakat di dalam pemahaman agamanya yang bisa mengeluarkan seseorang dari jalan yang lurus. (Al I’tisham 2/712 Imam Syathibi)

b. Ghuluw Al Juzi Al ‘Amaliy (الغلو الجزئ العملى)

Yaitu apa-apa yang berkaitan dengan sebagian atau secara keseluruhan dari perkara cabang-cabang di dalam syari’at secara ‘amaliyah, baik secara perkataan lisan atau perbuatan seperti yang disebutkan di dalam hadits riwayat imam Bukhori dan Muslim yang mengkisahkan tentang seorang yang hendak berpuasa sepanjang masa, sholat malam sepanjang malam dan meninggalkan kenikmatan dunia  untuk tidak menikah.

5. SEBAB-SEBAB TERJADINYA RADIKALISME

Penyimpangan dari pemahaman yang benar di dalam Islam dan jauhnya dari manhaj Assalafussholih (yaitu manhaj Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam,  para sahabatnya radiyallahu ‘anhum, tabi’in dan para ulama) terjadi dari berbagai sebab yang datang dari luar maupun dari dalam Islam sendiri.

a. Faktor-faktor  yang terjadi dari luar Islam

Seperti terjadinya perluasan daerah Islam yang berdampak pada masuknya  berbagai macam pola pemikiran yang berasal dari non Islam, masuknya berbagai macam agama di dalam negara-negara Islam,  banyak beredarnya buku-buku yang tidak bersumber dari Islam, dan masuknya berbagai macam keyakinan yang sesat, seperti halnya Abdullah bin Saba’ Al-Yahudi (pencetus kelompok Syi’ah) yang memasukkan pemikiran ghuluw terhadap Ali bin Abi Tholib  hingga sampai pada derajat ketuhanan demikian juga Bisri Al-Marisi Al-Yahudi yang menafikan nama-nama dan sifat-sifat Alloh ta’ala sekaligus menganggap Al-Qur’an sebagai makhluq bukan kalamullah.

b. Faktor –faktor yang terjadi dari dalam Islam

Dari faktor pokok utama mengenai permasalahan ghuluw yang terjadi:

  1. Ibtida’ (melakukan perkara-perkara agama ini yang tidak berdasarkan dalil-dalil yang ada).
  2. Jahil (Kebodohan dan lemahnya keilmuan tentang kebenaran agama ini serta sedikitnya perbendaharaan ilmu di dalam mengetahui seluk beluk yang terdapat di dalamnya).
  3. Ittiba’ul Hawa (mengikuti hawa nafsu dengan meninggalkan tuntunan syari’at yang ada).
  4. Taqdimul ‘Aqli ‘ala Naqli (mendahulukan akal dari pada nash-nash yang ada).
  5. Ta’ashshub wa Taqlid (fanatik kepada sesuatu serta mengikutinya dengan membabi buta)

Inilah beberapa sebab yang bisa dipaparakan secara ringkas dalam kesempatan terbatas ini.

6. GAMBARAN SEJARAH RADIKALISME

Didalam pembahasan ini kami sebutkan sebagian kelompok yang bersikap ghuluw dan menyelisihi manhaj Ahlussunnah wal Jama’ah, yang banyak disebutkan didalam kitab para ulama;

1. Dalam masalah nama dan sifat Alloh ta’ala.

  • Kelompok Jahmiyah: berlebihan di dalam menafikan nama dan sifat bagi Alloh ta’ala.
  • Kelompok Musyabbihah: berlebihan di dalam menetapkan nama dan sifat, sampai mereka menyamakan Alloh ta’ala dengan makhluknya.

2. Dalam masalah Taqdir.

  • Kelompok Qodariyah: berlebihan di dalam menetapkan kehendak Alloh ta’ala, sampai menafikan Taqdir Alloh ta’ala bagi makhluk dan menetapkan bahwa makhluk menciptakan perbuatannya sendiri.
  • Kelompok Jabriyah: berlebihan di dalam menetapkan kehendak Alloh ta’ala, sampai menafikan ikhtiyar makhluk dan menetapkan bahwa semua yang dilakukan makhluk hakikatnya adalah perbuatan Alloh ta’ala.

3. Dalam masalah penamaan iman dan agama.

  • Kelompok Khowarij: berlebihan di dalam permasalahan iman sampai mereka mengkafirkan orang yang berbuat maksiat walaupun hanya sekali, maka halal darah dan hartanya.
  • Kelompok Mu’tazilah: berlebihan sampai mengatakan bahwa orang yang berbuat maksiat tidak dikatakan orang muslim atau kafir, tetapi berada di antara dua perkara ini, sedangkan di akhirat dia kekal di neraka.
  • Kelompok Murji’ah: meremehkan di dalam mensikapi pelaku  kemaksiatan, sampai mengatakan bahwa amalan tidak termasuk masalah iman. Maka orang yang bermaksiat walaupun sebanyak apapun tidak akan mengeluarkan dari iman.

Untuk lebih jelasnya dalam masalah ini  bisa dibaca dalam berbagai referensi diantaranya:

  1. Al Fasl Fil Milal Wal Ahwa’ Wan Nihal, karya Imam Ibnu Hazm rahimahullah.
  2. Al Milal An Nihal, karya Asy Syihristani Asy Syafi’I rahimahullah.
  3. Al Farqu Bainal Firoq, karya Imam abdul qahir  bin thohir al Baghdadi rahimahullah.
  4. Maqolatul Islamiyin Wa Ikhtilaf Musolin, karya Imam Abul Hasan Al Asy’ari rahimahullah.

Dalam kesempatan ini akan kami paparkan salahsatu kelompok yang banyak memberikan Inspirasi bagi Individu ataupun kelompok yang ada pada masa sekarang ini yang melakukan berbagai macam bentuk kekerasan dan pembunuhan di dalam perkara agama, inilah kelompok yang dinamakan Al-Khowarij:

 

A. Penamaan Khowarij

Kelompok ini dinamakan sebagai khowarij dari kalimat ” (  (خَرَجَ / Khoroja “ Yang bermakna keluar atau memberontak. Hal ini disebabkan karena mereka keluar untuk memberontak dari kholifah Ali bin abi Tholib radiyallahu ‘anhu dalam perang Sifin, dan kejadian ini sudah digambarkan oleh Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam ketika bersabda “Mereka keluar ketika terjadi perselisihan diantara kaum muslimin” kemudian perbuatan ini menjadi sifat yang paling menonjol bagi khowarij sampai zaman sekarang (lihat Al khowarij Awwalul Firoq Fi Tarkil Islam: 28-29).

B. Awal kemunculan kelompok Khowarij

Kelompok ini sebenarnya sudah muncul bibitnya pada zaman Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam dan pencetus mereka bernama Dzul Khuwaisiroh, berkata kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam “Wahai Rosululloh berbuat adillah!!” ketika Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam membagi Ghonimah Hunain. Maka Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda “Sungguh celaka kamu… siapakah yang bisa berbuat adil kalau saya tidak berbuat adil, sungguh celakalah aku dan rugilah jika aku tidak berbuat adil .”

Dan di zaman Abu Bakar, Umar dan Utsman radiyallahu ‘anhum kelompok ini belum muncul, ketika pada masa kholifah Ali bin Abi Tholib radiyallahu ‘anhu terjadi perselisihan pendapat antara Ali dan Mu’awiyah radiyallahu ‘anhuma dalam masalah pembunuhan Utsman radiyallahu ‘anhu. Maka Ali radiyallahu ‘anhu berpendapat untuk ditegakkan Kholifah terlebih dahulu kemudian setelah itu menghukum pembunuh Utsman radiyallahu ‘anhu, Sedangkan Mu’awiyah radiyallahu ‘anhu berpendapat untuk ditegakkan hukuman untuk pembunuh Utsman sebelum dipililh Kholifah.

Perselisihan ini menyebabkan suatu peperangan yang besar diantara kedua belah pihak yang dikenal dengan perang Siffin. Ketika terjadi peperangan dan nampak kemenangan bagi pihak Ali maka Mu’awiyah radiyallahu ‘anhu meminta perdamaian dengan saling mengutus perwakilan dari kedua belah pihak. Maka Ali radiyallahu ‘anhu mengutus Abu Musa Al-‘Asy’ary radiyallahu ‘anhu sedangkan Mu’awiyah radiyallahu ‘anhu mengutus Amr bin ‘Ash radiyallahu ‘anhu untuk berhukum dan mengadakan perdamaian.

Setelah melihat perdamaian ini beberapa prajurit dan kelompok Ali radiyallahu ‘anhu merasa tidak puas dan memutuskan unuk keluar dari barisan Ali radiyallahu ‘anhu. Yang pertama kali menyatakan ketidakpuasan itu adalah Urwah bin Jarir radiyallahu ‘anhu dia berkata “Apakah kalian berhukum kepada manusia dalam agama Alloh ta’ala??” kemudian perkataan ini tersebar di kalangan kelompok mereka lalu tersebar (istilah tidak ada hukum kecuali hukum Alloh ta’ala) setelah itu mereka membai’at Abdullah bin Wahab Ar Rosyibi pada Tanggal 10/10/37 H, untuk membuat kelompok tersendiri dan untuk memberontak terhadap Ali bin Abi Tholib dan Mu’awiyah radhiyallahu ‘anhuma kemudian mereka kumpul di suatu tempat bernama Haruro yang berjumlah sekitar 12.000 prajurit.

Kemudian Kholifah Ali radiyallahu ‘anhu membantah mereka dan juga mengutus sebagian para sahabat seperti Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhuma untuk menyadarkan dari pemahaman mereka yang menyimpang sehingga terbongkarlah penyimpangan yang ada pada mereka. Setelah terbongkarnya penyimpangan-penyimpangan mereka maka sekitar 8.000 (2/3) dari pasukan mereka tobat dan kembali kepada Ali Bin Abi Tholib radiyallahu ‘anhu sedangakan sisa pasukan yang berjumlah 4.000 masih tetap dalam penyimpangannya.

Kemudian mereka keluar ke tempat yang bernama Nahrowan untuk memerangi kholifah Ali radiyallahu ‘anhu dan pasukannya. Ketika di tengah perjalanan mereka melihat seseorang yang lari maka orang ini ditangkap dan ditanya “Siapa kamu?” orang tadi menjawab “Saya Abdullah bin Khobbab Al Aroti radiyallahu ‘anhu” orang-orang khowarij berkata kepadanya “Beri tahu kepada kami satu hadits yang kamu dengar dari bapakmu dari Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam” Abdullah berkata “Aku mendengar bapakku berkata, Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda “Akan datang suatu fitnah orang yang duduk lebih baik dari pada yang berdiri, yang berdiri lebih baik dari yang berjalan, yang berjalan lebih baik dari yang berlari.” Maka barang siapa yang mampu menjadi orang yang terbunuh maka jangan menjadi pembunuh.

Maka salah seorang Khowarij marah ketika mendengar hadits ini kemudian mengeluarkan pedang untuk membunuh Abdullah. Ketika dia mendapatkan Abdullah telah meletakkan mushaf AlQur’an di lehernya maka orang-orang Khowarij berkata “Sesungguhnya apa yang ada di leher kamu telah meminta kita untuk membunuhmu lalu memenggal kepala Abdullah. Kemudian orang-orang Khowarij masuk ke dalam rumah Abdullah dan membunuh anak dan istrinya dalam keadaan hamil lalu mereka berjalan ke Nahrowan.

Setelah itu sampailah berita itu kepada Ali radiyallahu ‘anhu, maka dia keluar bersama 4.000 pasukan untuk menyerang khowarij. Setelah sampai di Nahrowan Ali meminta kepada Khowarij untuk menyerahkan pembunuh Abdullah bin Khobbab maka mereka berkata “Sesungguhnya kita semua yang membunuhnya, seandainya kita yang lolos darimu maka kita yang akan membunuhmu” lalu terjadilah peperangan yang dahsyat yang dinamakan dengan perang Nahrowan. Dan jumlah pasukan Ali yang terbunuh hanya 9 orang sedangkan dari kelompok Khowarij semuanya terbunuh kecuali 9 orang yang tersisa. 2 orang melarikan diri ke Sijistan, 2 orang lari ke Yaman, 2 orang lari ke Oman, 2 orang lari kesebelah Jazirah, satu orang lari ke Tilmuzan. Dan Sembilan orang inilah menjadi penggerak dan penyebar pemikiran Khowarij di Negara-negara tersebut sampai memiliki pengikut yang banyak.

Lalu mereka menyusun strategi untuk membunuh atau menculik kholifah Ali dan Mu’awiyah  Amr bin ‘Ash radiyallahu ‘anhum sampai tokoh mereka yang bernama Abdurrahman bin Muljam bisa membunuh kholifah Ali radiyallahu ‘anhu di pagi hari Jum’at 17 Romadhon tahun 40 H. ketika Ali mengimami sholat Subuh maka ditikamlah Ali radiyallahu ‘anhu menggunakan pedang yang sudah dibubuhi racun. Kemudian Abdurrahman bin Muljam ditangkap lalu dibunuh. Kemudian setelah itu menyebarlah pemkiran khowarij sampai saat ini diseluruh penjuru dunia Islam. (Lihat Al Faruq Bainal Firoq:79-86, dan Al Milal Wan Nihal: 132-137 dan Al Khowarij:30-32).

bersambung (klik di sini)…..

One response to “Berlebihan dalam Beragama (bag.2)

  1. Pingback: Berlebihan dalam Beragama (bag.1) | مؤسسة دار السنة الإسلامية·

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s