Berlebihan dalam Beragama (bag.1)

Oleh: Abu Kholil Mujahid (Markaz Darul Hadits Ma’arib Yaman)

Kebenaran adalah sesuatu yang sangat berharga, sangat agung dan sangat mahal yang menjadikan seseorang berada di atasnya merasa tenang, tentram dan nyaman inilah kebahagian hidup, suatu nikmat yang sangat besar dan mahal bagi seluruh manusia ketika mampu menjadikan Islam sebagai ajaran hidupnya. Dialah Alloh ta’ala yang telah menurunkan agama yang haq sebagai petunjuk, nasehat dan kabar gembira, sebagai cahaya yang terang benderang, risalah yang terakhir, sebagai pelurus dari semua jalan kesesatan dan penyimpangan, sebagai cahaya Ilmu dari segala macam kebodohan, membukakan hati bagi orang-orang yang lalai. Maka bersinarlah dunia dengan Islam sesudah kegelapannya, bersatulah manusia sesudah bercerai berainya, tegak sebagai ajaran kehidupan yang benar dan rahmat bagi seluruh alam.

“Dan inilah jalanKu yang lurus, Maka ikutilah Dia, dan janganlah kamu mengikuti jalan-jalan yang lain, Karena jalan-jalan itu mencerai beraikan kamu dari jalannya. yang demikian itu diperintahkan Alloh agar kamu bertakwa.” (Al An’am:153)

I. ISLAM ADALAH AGAMA ADIL DAN PERTENGAHAN.
Dinul Islam adalah agama yang menyerukan kepada semua kebaikan dan meninggalkan semua kejelekan dan ini merupakan maksud daripada syariat yang diturunkan Alloh ta’ala kepada Rosul-Nya. Sebagaimana dalam kaidah yang ma’ruf:

جاءت الشريعة لتحصيل المصالح أو لتكميلها ولتعطيل المفاسد أو لتقليلها

Islam adalah agama yang adil dan pertengahan diantara dua golongan yang berlebih-lebihan (ifroth) dan golongan yang meremehkan (tafrith) amalan-amalan didalam perkara agama. Umat Islam adalah umat yang berada dipertengahan antara umat Yahudi (al magdhubun) dan Nasrani (ad dholun) sebagaimana yang disebutkan Alloh ta’ala di dalam surat Al Fatihah. Yaitu umat Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam yang berilmu dan beramal diatas kebenaran yang diturunkan oleh Alloh ta’ala.

“Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (Al Baqoroh:143).

Demikianlah kita dapatkan di dalam ajaran Islam yang mengedepankan sikap adil dan pertengahan dalam semua sendi kehidupannya dan memperingatkan umatnya untuk meninggalkan sikap yang berlebihan (ifroth) dan meremehkan (tafrith) didalam perkara-perkara agamanya. Inilah sikap pertengahan yang membedakan ajaran Islam dengan ajaran yang lainnya, yang dinamakan keadilan sebagai mana yang telah disebutkan didalam ayat diatas bahwa umat ini sebagai syuhada/saksi-saksi diantara semua umat yang ada, dan tidaklah persaksian itu diterima kecuali dengan keadilan dan orang yang berlaku adil. Sebagaimana disebutkan didalam hadits Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam:

عن أبى سعيد الخري رضي الله عنه قال: قال رسو ل الله صلى الله عليه وسلم : “يجاء بنوح يوم القيا مة, فيقال له: هل بلغت؟ فيقول: نعم يا رب, فتسأل أمته: هل بلغكم؟, فيقولون: ماجاءنا من نذير, فيقول: من شهودك؟, فيقول: محمد وأمته, فيجاء بكم فتشهدون, ثم قرأ رسول الله صلى الله عليه وسلم : (وكذلك جعلناكم أمة وسطا), قال: عدلا (لتكونوا شهداء على الناس ويكون الرسول عليكم شهيدا). (رواه البخارى)

Artinya: Dari Abi Said Al Khudry radhiyallahu ‘anhu berkata: bersabda Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam : “Dihadirkan Nabi Nuh ‘alaihis salam pada hari kiamat, maka dikatakan kepadanya, apakah telah kamu sampaikan? Maka berkata (Nabi Nuh ‘alaihis salam ): ya (telah aku sampaikan) wahai Tuhanku, maka ditanya umatnya: apakah dia telah menyampaikan kepada kalian? Mereka menjawab: tidaklah datang kepada kami peringatan, maka berkata (Alloh ta’ala): siapakah yang menjadi saksimu? Maka berkata (Nabi Nuh ’alaihis salam): Muhammad dan umatnya, maka didatangkanlah kalian (umat Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam) dan kalian bersaksi, kemudian Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam membacakan ayat : ” Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rosul shallallahu ‘alaihi wa sallam (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu.” (HR. Bukhori).

Dan inilah makna ayat sebagaimana yang ditafsirkan oleh salafussholih seperti: Ibnu Abbas, Mujahid, Said Ibnu Zubair, Qotadah radhiyallahu ‘anhum dan yang lainnya.

Kalian adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Alloh.” (Ali Imran:110)

Sebagai mana ayat ini juga menegaskan bahwasannya umat ini adalah umat yang terbaik, dan tidaklah kebaikan yang ada pada umat ini kecuali keadilan ada di dalamnya. Tidaklah Alloh ta’ala memerintahkan sesuatu kebaikan kecuali syaithon akan menghalanginya baik dengan meninggalkan, meremehkan (tafrith) amalan atau menambahkannya (ifroth) akan tetapi Alloh ta’ala senantiasa menjaga agama ini. Perumpamaan keadilan dan pertengahan agama ini sebagai mana diibaratkan lembah diantara dua bukit, hidayah diantara dua jalan kesesatan.

Dan gambaran keadilan agama ini sangatlah banyak yang meliputi semua sendi kehidupan, setiap ajaran yang ada didalam syariat sesuai dengan keadilan karena agama ini adalah agama fitroh bagi manusia, sebagaimana Syariat Islam juga merupakan ajaran yang mudah bagi umatnya.

“Dan Dia (Alloh) sekali-kali tidak menjadikan untuk kalian dalam agama suatu kesempitan”. (Al Hajj:78).

“Alloh menghendaki kemudahan bagi kalian, dan tidak menghendaki kesukaran bagi kalian”. (Al Baqoroh:185).

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya agama ini mudah dan tidaklah yang membuat kesulitan kecuali akan dikalahkannya”.

Inilah kemudahan yang ada didalam syariat Islam yang Alloh ta’ala dan Rosul-Nya berikan kepada umat-Nya. Sebagaimana juga agama ini merupakan agama yang penuh dengan keramahan, kelembutan dan pemaaf.

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Alloh ta’ala itu lembut mencintai kelembutan, dan memberikan atas kelembutan apa-apa yang tidak diberikan atas kekerasan“. (HR. Muslim).

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya tidaklah kelembutan itu ada pada sesuatu kecuali menjadikannya indah, dan tidaklah dicabutnya dari sesuatu kecuali menjadikannya buruk”. (HR. Muslim).

Kelembutan, keramahan dan kemudahan ini semua terlihat dalam konsep dakwah dan penyebaran Islam sebagaimana yang dilakukan oleh Rosululloh dan para sahabatnya.

Tatkala Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam mengutus Mu’ad bin Jabal dan Abu Musa Al As’ari radhiyallahu ‘anhuma ke Negeri Yaman:

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Mudahkanlah dan janganlah kalian persulit, beri kabar gembira dan jangan buat mereka lari“. (HR. Bukhori).

Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Tidaklah Alloh mengutusku untuk menyulitkan dan saling menyulitkan, akan tetapi mengutusku sebagai seorang pengajar yang memudahkan” (HR. Muslim).

Kelembutan didalam dakwah ini adalah merupakan ajaran yang pernah dilakukan oleh para Nabi dan Rosul, sebagaimana ketika Alloh ta’ala mengutus Nabi Musa dan Harun ‘alaihimas salam kepada Fira’un (pembangkang yang menyatakan dirinya sebagai Tuhan),

“Pergilah kamu berdua kepada Fir’aun, sesungguhnya dia telah melampaui batas. Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut”. (Thaha:43-44)

Berkata Al Hafidz Ibnu Katsir rahimahullah : “Bahwa dakwah keduanya (Musa dan Harun ‘alaihimas salam ) kepada Fir’aun dengan perkataan yang lembut dan mudah agar bisa menyentuh jiwa dan berhasil”. (Tafsir Ibnu Katsir juz 3 hal.153).

Ayat diatas sebagai contoh bagi siapa saja yang menyerukan kepada kebenaran agar bersikap lembut sekalipun terhadap pembangkang, sebagaimana kisahnya Musa dan Harun terhadap Fir’aun didalam dakwahnya. Demikian juga Alloh ta’ala telah berfirman kepada Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam dan umatnya para penyeru dakwah.

Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk”. (An Nahl:125)

Didalam ayat ini Alloh ta’ala telah memerintahkan dalam berdakwah dengan tiga jalan: hikmah, peringatan yang baik dan membantah dengan cara yang baik.

Bersambung (klik di sini)…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s