Sunnah-sunnah Berhari Raya

Hukum Shalat ‘Ied
Shalat ‘Idul Fitri dan ‘Iedul Adha adalah sunnah mu’akkadah. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam senantiasa mengerjakannya dan memerintahkan kepada seluruh ummatnya, baik laki-laki maupun wanita untuk keluar menuju tempat shalat ‘Ied. Bahkan Allah ta’ala telah memerintahkan hal itu melalui firman-Nya,
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak, maka dirikanlah shalat karena Allah dan berkurbanlah.” (QS. Al-Kautsar: 1-2)
Shalat ‘Ied merupakan salah satu syi’ar Islam, sekaligus sebagai salah satu penampilan yang di dalamnya memperlihatkan bukti keimanan dan ketaqwaan yang kuat.

Sunnah-sunnah Pada Hari ‘Ied
Mandi, Memakai Wewangian dan Berpakaian Yang Baik
Mandi pada pagi hari sebelum berangkat untuk menunaikan shalat ‘Ied adalah amalan yang sunnah. Waktu disunnahkannya mandi tersebut dimulai sejak tengah malam. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu ia menceritakan,

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam telah memerintahkan kami pada hari ‘Idul Fitri dan ‘Idul Adha untuk mengenakan pakaian terbaik yang yang kami miliki dan mengenakan wewangian terbaik yang kami miliki dan menyembelih binatang tergemuk yang ada pada kami.” (HR. Al-Hakim)

Makan Sebelum Melaksanakan Shalat ‘Idul Fitri
Disunnahkan untuk memakan beberapa buah kurma yang jumlahnya ganjil sebelum berangkat menuju tempat pelaksanaan shalat ‘Idul Fitri. Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan dari Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu, dimana ia menceritakan:
“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tidak berangkat shalat pada hari raya ‘Idul Fitri, sehingga beliau memakan beberapa buah kurma.” Murajja’ bin Raja’ mengatakan: Ubaidillah pernah memberitahukan kepadaku, dimana ia menceritakan: Anas bin Malik radiyallahu ‘anhu pernah memberitahukan kepadaku dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam: “Bahwa beliau memakan kurma itu dalam jumlah ganjil.” (HR. Bukhari)

Bertakabir Pada Malam Harinya
Disunnah untuk membaca takbir pada malam harinya sampai imam keluar untuk mendirikan sholat ‘Ied. Adapun bacaan takbir yang diucapkan “Allahu Akbar, Allahu Akbar, La ilaha illallah, Allahu Akbar, Allahu Akbar, Wa lillahil Hamd” atau dengan mengucapkan “Allahu Akbar” tiga kali, riwayatnya sama-sama shahih. Dan sangat ditekankan mengucapkannya ketika keluar menuju tempat sholat ‘Ied dilaksanakan.

Menempuh Jalan Yang Berbeda
Hendaknya jalan yang dilalui ketika pulang dari tempat pelaksanaan sholat ‘Ied berbeda dengan jalan yang dilalui keti berangkat, hal ini didasarkan dengan hadits yang diriwayatkan dari Jabir:

“Apabila berangkat shalat ‘Ied Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam menempuh jalan yang berbeda dengan jalan yang beliau tempuh pada saat pulang.” (HR. Al-Bukhari)

Sholat Di Tanah Lapang
Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam sering melaksanakan sholat ‘Ied di tanah yang lapang, boleh dilaksanakan di masjid apabila dalam keadaan darurat seperti hujan dan yang semisalnya.

Mengucapkan Selamat Kepada Sesama Muslim
Hal ini telah dilakukan oleh para Sahabat Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam ketika hari raya, yaitu dengan mengucapkanTaqabbalallahu minna wa minkum” (HR. Al-Baihaqi) diantara mereka apabila saling bertemu.

Sifat Shalat ‘Ied

Beliau mengakhirkan shalat Idul fitri agar kaum muslimin memiliki kesempatan untuk membagikan zakat fitrahya, dan mempercepat pelaksanaan shalat Idul Adha supaya kaum muslimin bisa segera menyembelih binatang kurbannya.

Ibnu Umar yang terkenal sangat sungguh-sungguh dalam mengikuti sunnah Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam  tidak keluar untuk shalat ied kecuali setelah terbit matahari, dan dari rumah sampai ke tempat shalat beliau senantiasa bertakbir. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam  melaksanakan shalat ied terlebih dahulu baru berkhutbah, dan beliau shalat dua rakaat. Pada rakaat pertama beliau bertakbir 7 kali berturut-turut dengan takbiratul ihram, dan berhenti di antara tiap takbir, kemudian 5 kali berturut-turut pada rakaat kedua. Beliau tidak mengajarkan dzikir tertentu yang dibaca saat itu. Hanya saja ada riwayat dari Ibnu Mas’ud radiyallahu ‘anhu, Ia berkata: “Dia membaca hamdalah dan memuji Allah Ta’ala serta membaca shalawat.” Dan diriwayatkan bahwa Ibnu Umar mengangkat kadua tangannya pada setiap bertakbir.

Diantara Kesalahan-kesalahan pada Hari ‘Ied
Azan dan Iqamah sebelum shalat ‘Ied
Shalat ‘Ied dikerjakan tanpa dikumandangkan azan juga iqamah maupun seruan yang lain yang biasa dilakukan oleh sebagian kaum muslimin yaitu ucapan “Assholatul Jami’ah” ini tidak ada contoh dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam kecuali hanya dalam sholat khusuf (gerhana) saja. Hal ini berdasarkan pada hadits dari Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu, dimana ia berkata,

“Tidak pernah dikumandangkan azan pada hari raya ‘Idul Fitri dan juga ‘Idul Adha.” (HR. Muttafaqun ‘Alaih)

Sholat sebelum dan sesudah Shalat ‘Ied
Tidak ada satu pun dalil yang menetapkan adanya shalat sunnah sebelum atau sesudah shalat ‘Ied. Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam dan juga para sahabatnya tidak pernah mengerjakan satu rakaat pun shalat sunnah sebelum maupun sesudah shalat ‘Ied. Dari Ibnu ‘Abbas radiyallahu ‘anhu, ia berkata :

“Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam pernah berangkat untuk menunaikan shalat pada hari raya. Lalu beliau mengerjakan shalat dua raka’at (shalat ‘Ied) dan tidak mengerjakan shalat lain sebelum maupun sesudahnya.”(HR. Jama’ah)

Maraji’:

  1. Fiqh Wanita, Pustaka Al-Kautsar
  2. Minhajul Muslim, Syaikh Abu Bakar Jabir Al-Jazairy

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s