Syarat Sahnya Ibadah

Ibadah merupakan inti dari kehidupan ini, manusia tidak diciptakan dengan sia-sia tanpa tujuan yang jelas, akan tetapi kita diciptakan untuk tujuan peribadatan kepada Sang Khaliq. Alloh subhanahu wa ta’ala menerangkan hal ini dalam surat Adalah-Dzariyat ayat 56 “Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan hanya untuk beribadah kepada-Ku”. Ibadah yang benar adalah ibadah yang ditujukan hanya kepada Alloh saja, akan tetapi apabila suatu ibadah itu ditujukan kepada selain Alloh maka akan fatal akibatnya, karena ibadah merupakan inti dari kehidupan seorang manusia, dan Alloh akan mengganjar orang-orang yang menyelewengkan peribadatan kepada selaiNya dengan azab yang sangat pedih.

Perintah untuk beribadah kepada Alloh dan menjauhi ibadah kepada selain-Nya adalah merupakan inti dakwah dari para Rasul mulai dari Nuh ‘alaihis salam sampai Muhammad shalAllohu ‘alaihi wa salam. Alloh berfirman:

“Dan sungguhnya Kami telah mengutus para rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan): “Sembahlah Alloh (saja), dan jauhilah Thaghut itu” (QS: an-Nahl; 37).

“Dan Kami tidak mengutus seorang rasulpun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: “Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku.” (QS: al-Anbiya’: 25).

A. Makna Ibadah

Setelah kita mengetahui tujuan utama manusia itu diciptakan yaitu beriadah kepada Alloh, maka selayaknya kita harus tau makna ibadah itu sendiri. Ibadah adalah: mendekatkan diri kepada Alloh ta’ala dengan sesuatu yang disyariatkan baik berupa amalan, atau  perkataan yang nampak maupun yang tidak nampak. Dan ibadah adalah hak Alloh ta’ala atas hamba-hamba-Nya dan manfaatnya kembali kepada meraka, barang siapa enggan untuk beribadah kepada Alloh ta’ala maka ia adalah sombong, dan barang siapa beribadah kepada Alloh ta’ala dan beribadah pula kepada selain-Nya maka ia musyrik, dan barang siapa beribadah kepada Alloh saja dengan sesuatu yang tidak disyariatkan maka ia adalah pelaku bid’ah(mengada-ada dalam agama), dan barang siapa beribadah kepada Alloh saja dengan sesuatu yang disyariatkan maka ia adalah mukmin yang bertauhid.

B. Syarat-syarat Ibadah yang benar

Sesungguhnya ibadah yang Alloh ta’ala syariatkan dibangun di atas prinsip-prinsip dan dasar-dasar yang kokoh, yang terangkum dalam hal-hal berikut:

Pertama: Bahwa ibadah adalah tauqifiyah, artinya tidak ada celah bagi akal untuk ikut campur di dalamnya, yang memiliki otoritas untuk membuat syariat hanyalah Alloh ta’ala, atau Rosulullah shalAllohu ‘alaihi wa salam, sebagaimana yang Alloh firmankan kepada Nabi-Nya:

“Kemudian Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan (agama itu), maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu ikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” (QS: Al-Jaatsiyah: 18).

Dan firmanya tentang Nabi-Nya: “Aku tidak mengikuti kecuali apa yang diwahyukan kepadaku”. (QS: Al-An’aam: 50)

Kedua: Ibadah harus ikhlas karena Alloh ta’ala, bersih dari noda-noda syirik, sebagaimana Alloh ta’ala berfirman:

“Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya” (QS: AL-Kahfi: 110)

Jika Ibadah bercampur dengan kesyirikan, maka kesyirikan itu dapat menghapusnya, Alloh ta’ala berfirman:

“Seandainya mereka mempersekutukan Alloh, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.”(QS: Al-An’aam: 88).

Ketiga: Yang harus menjadi tauladan dan pemberi penjelasan tentang ibadah adalah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, sebagaimana Alloh ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu. (QS: Al-Ahzab: 21),

dan berfirman: “Apa yang diberikan Rasul kepadamu, maka terimalah. Dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah. (Qs: Al-Hasyr: 7).

Rosulullah shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda:

“Barang siapa melakukan amalan yang tidak ada tuntunanya dari kami, maka ia tertolak”, dan bersabda: “Solatlah kalian sebagaimana aku solat”, dan bersabda: ambilah dariku manasik kalian“, dan nash-nash yang lain yang menunjukan kewajiban mencontoh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam, bukan mencontoh yang lain.

Keempat: Ibadah itu memiliki batas waktu dan ukuran yang tidak boleh dilampaui, seperti solat, Alloh ta’ala berfirman:

“Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” (QS: An-Nisa’: 103)

dan seperti  haji, Alloh berfirman: “(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi” (QS: Al-Baqoroh: 197)

dan seperti puas, Alloh ta’ala berfirman: “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa” (Qs: Al-Baqarah: 185)

maka semua ibadah ini tidak akan sah kecuali jika dilakukan di waktu-waktunya.

Kelima: Ibadah harus dibangun di atas kecintaan kepada Alloh ta’ala, menghinakan diri kepada-Nya, takut dan mengharap kepada-Nya, Alloh berfirman:

“Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. Dan mereka adalah orang-orang yang khusyu’ kepada Kami.” (QS: Al-Anbiyaa’: 90)

dan berfirman: “Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Alloh, ikutilah aku, niscaya Alloh mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu. Alloh Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Katakanlah: Ta’atilah Alloh dan Rasul-Nya; jika kamu berpaling, maka sesungguhnya Alloh tidak menyukai orang-orang kafir.” (QS: Ali Imran: 31,32).

Keenam: Bahwa ibadah tidak akan gugur dari seorang mukalaf sejak ia baligh berakal hingga wafat, Alloh ta’ala berfirman:

“Dan janganlah kalian meninggal kecuali dalam keadaan islam” (QS; Ali Imron: 102)

dan firman Allh ta’ala:”Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu yang diyakini (ajal).” (QS: Al-Hijr: 99).

Ibadah itu memilki ragam: Ia adalah sesuatu yang mencakup seluruh yang dicintai dan diridhoi Alloh ta’ala, baik berupa perkataan maupun perbuatan, yang zohir atau yang bathin. Solat, zakat, puasa dan haji adalah jenis-jenis ibadah yang teragung, semuanya adalah rukun-rukun islam, begitu pula sifat-sifat yang terpuji dan akhlak yang utama adalah bagian dari ibadah, seperti perkataan jujur, menunaikan amanat, berbakti kepad orang tua, silaturahim, menepati janji, nasehat, amar ma’ruf nahi mungkar, jihad, berbuat baik kepada tetangga dan anak yatim, orang miskin, budak dan hewan, berdoa, dzikir, membaca al-qur’an, mencintai Allah ta’ala dan Rosul-Nya, takut kepada-Nya, bertaubat, mengikhlaskan(memurnikan) agama untuk-Nya, sabar dalam mensikapi ketentuan-Nya, mensyukuri nikmat-Nya, ridaho terhadap qodho’-Nya, tawakal kepada-Nya, mengharap rahmat-Nya dan takut akan azab-Nya, seluruh amal dalam agama masuk dalam kategori ibadah, dan ibadah yang teragaung adalah menjalankan segala yang diwajibkan Allah dan menjauhi segala yang dilarang-Nya.

Sesungguhnya ibadah itu tidak terbatasi dengan satu definisi yang sempit, namun ia mencakup segala yang Allah syariatkan, baik berupa perkataan, amalan maupun niat, karena niat mencakup perkataan lisan, gerakan raga dan maksud-maksud hati, bahkan ia mencakup seluruh kehidupan muslim hingga makan, minum dan tidurnya, jika ia berniat dengan amalan-amalan itu memperkuat diri agar mampu melaksanakan ketaatan kepada Allah, bahkan ia mencakup pula hubungan suami-istri jika ia niatkan agar menjaga kesucian diri dari yang haram,

sebagaimana Nabi bersabda:

“Sesungguhnya setiap tasbih adalah sodaqoh, setiap takbir adalah sodaqoh, setiap tahmid adalah sodaqoh, setiap tahlil adalah sodaqoh, dan amar ma’ruf adalah sodaqoh, nahi mungkar adalah sodaqoh, dan dalam kemaluan salah seorang kalian adalah sodaqoh. Para sahabat bertanya: Ya Rosulullah, apakah salah seorang dari kami memenuhi syahwatnya lalu baginya pahala di dalamnya?, Rosul bersabda:” Tahukah kamu jika ia meletakanya pada yang haram, bukankah ia berdosa? Maka begitu pula jika ia meletakan pada yang halal, baginya pahala juga”.

Dan dalam hadits Abu Hurairoh dari Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, ia bersabda:

” Setiap hari matahari terbit anda berbuat adil terhadap dua orang adalah sodaqoh, anda membantu orang dalam kendaraanya adalah sodaqoh, anda menumpangkanya di atas kendaraan atau mengangkat barangnya di atas kendaraan adalah sodaqoh, kalimat yang baik adalah sodaqoh, setiap langkah anda berjalan kepada solat adalah sodaqoh, menyingkirkan rintangan dari jalan adalah sodaqoh” (HR: bukhori Muslim)

[Disarikan dari kitab Terjemah Dhawabith Al-Ibadah As-Shahihah Syaikh Sholih bin Fauzan]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s