Tiada Hidup Tanpa Tauhid

Sebagian orang mengira bahwa hidup di dunia ini adalah untuk bersenang-senang, memuaskan hawa nafsunya, mewujudkan angan-angan dan impiannya; sehingga kalau dia tidak berhasil mewujudkan hal tersebut maka dianggap telah gagal dalam menempuh kehidupannya, sehingga menjadi orang yang tidak bahagia, susah dan sengsara. Benarkah pandangan seperti ini? Benarkah pendapat seperti ini? Lalu apa tujuan hidup masusia yang sebenarnya?

Hidup kita di dunia fana ini tidak akan ada artinya, gak akan ada faedahnya, gak akan ada gunanya, gak akan ada manfaatnya tanpa dilandasi dengan tahuid (mengesakan Alloh subhanahu wa ta’ala dalam seluruh aktivitas ibadah). Karena itulah tujuan Alloh subhanahu wa ta’ala menciptakan manusia dan jin; hal ini sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala:
Dan tidaklah aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mentauhidkan dalam beribadah kepada-Ku‘. (QS. Adz-Dzariayat: 56). Imam Ibnu Katsir rohimahulloh berkata, yaitu tujuan mereka Kuciptakan adalah untuk Aku perintah agar beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka (tapi merekalah yang butuh kepada-Ku). (Tafsir Al Qur’anul ‘Adzhim, Tafsir surat Adz Dzariyaat).

Maknanya kalau orang tidak mau mentauhidkan dalam beribadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, maka dia sudah keluar dan menyimpang dari tujuan diciptakannya. Sehingga dia tidak akan mendapatkan harapan kehidupannya, yaitu kehidupan bahagia, sejahtera, tentram dan nyaman di dunia hingga di akhirat kelak. Sebagaimana orang yang sekolah tujuannya adalah belajar, mencari ilmu yang bermanfaat bagi kehidupannya di dunia dan akhirat; tapi ketika berangkat sekolah, namun gak mau belajar, justru ngluyur kesana kemari, maka dia telah menyimpang dari tujuan sekolah. Maka bagaimana dia akan mendapatkan kesuksesan dan kelulusan di sekolahnya?. Apakah ketika orang tua atau guru memrintahkan untuk belajar, apakah yang butuh ilmu tersebut orang tua atau gurunya? Tentulah yang membutuhkan adalah siswa itu sendiri! Dan kalau siswa tidak mau belajar, gak punya kepandaian, gak punya ketrampilan dan sebagainya; siapa yang rugi? Hendaklah kita memiliki tekad dan usaha yang maksimal untuk meraih tujuan hidup kita, untuk mendapatkan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat.

Beribadah yang hanya ditujukan kepada Alloh semata dengan benar adalah tauhid, maka tauhid adalah ibadah; sehingga orang yang tidak bertauhid artinya orang tersebut tidak beribadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala dengan benar. Maka tatkala seseorang tidak bertauhid, maknanya dia beribadah kepada selain Alloh subhanahu wa ta’ala, seperti kepada Malaikat, kepada Jin, kepada pengunggu tempat keramat dan angker, kepada setan, kepada dukun, kepada orang yang dianggap sebagai wali yang sudah mati, kepada hawa nafsunya dan yang semisalnya.
Karena itu beribadah yang hanya ditujukan kepada Alloh dengan benar atau tauhid adalah ikhlash, yaitu memurnikan ibadah hanya kepada Alloh semata. Maka ibadah yang benar sama dengan tauhid, tauhid sama dengan ikhlash. Artinya seseorang tidak dikatakan ikhlash, kalau tidak memurnikan tauhidnya dalam beribadah hanya kepada Alloh semata.

Dan mungkin kalimat tauhid atau kalimat ikhlash sudah sering kita dengar, sudah sering kita baca, sudah akrab dalam pembicaraan kita, tapi untuk pengejewantahannya, perwujudannya, perealisasiannya dalam kehidupan kita tidak semudah membalikkan kedua telapak tangan kita, tidak semudah orang mengedipkan matanya. Untuk mewujudkan tauhid dalam kehidupan kita dibutuhkan perjuangan dan pengorbanan yang tidak sedikit, diperlukan kesungguhan dan keseriusan, diperlukan keuletan dan kesabaran. Bahkan para ulama mengatakan, bahwa tidak ada amalan yang lebih berat dan lebih susah untuk dilakukan dan dijaga dari ikhlash aatau niatan yang ikhlash dalam beribadah kepada Alloh subhanahu wa ta’ala. Karena banyaknya gangguan, rintangan, ujian dan cobaan dalam pengamalannya; sehingga tidak sedikit orang yang gagal dalam prakteknya. Padahal diantara syarat diterimanya amal kita adalah ikhlash dalam pengamalannya, dan ikhlash adalah tauhid yang benar.

Dan tauhid adalah perkara yang sangat penting, sangat urgen, sangat mendesak, sangat pokok dan sangat mendasar bagi seorang Muslim. Karena pentingnya masalah ini, maka semua para Rasul mendakwahkan, menyampaikan dan menyerukan kepada kaumnya supaya mereka mentauhidkan Alloh dalam beribadah; hal ini sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala:
‘Sungguh telah Kami mengutus kepada setiap umat seorang Rasul (yang mengajak, menyeru) hendaklah kalian mentauhidkan Alloh dalam beribadah dan hendaklah kalian menjahui, meninggalkan thoghut (sesembahan selain Alloh subhanahu wa ta’ala).’ (QS. An Nahl: 36)
.
Dan tauhid merupakan kewajiban yang pertama bagi seorang muslim dan juga kewajiban yang terakhir dalam kehidupannya. Karena Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan para utusan dakwahnya, agar mereka menyampaikan tauhid terlebih dulu sebelum perkara yang lainnya. Hal ini sebagaiamana telah dijelaskan Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa salam dalam hadits-haditsnya, diantaranya:
Perintah Nabi shallallohu ‘alaihi wa sallam kepada Mu’adz bin Jabal radhiyallohu ta’ala ‘anhu ketika diutus ke Yaman, maka Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘Jadikanlah perkara yang pertama kali kamu dakwahkan kepada mereka ialah agar mereka mentauhidkan Alloh subhanahu wa ta’ala dalam beribadah; dan jika mereka telah mentaatimu dalam perkara ini, maka serulah mereka untuk menunaikan shalat lima waktu sehari semalam ….’ (Riwayat Bukhori dan Muslim).

Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam juga bersabda, ‘Siapapun yang perkataan akhir hayatnya adalah ‘Laa ilaaha illalloh’ dijamin masuk surga.’ (Riwayat Abu Dawud, Ahmad dan Hakim dihasankan Al Albani dalam Irwa’ul Gholil).
Hadits tersebut mengindikasikan bahwa tauhid adalah perkara yang paling wajib, paling penting, paling segera untuk dilakukan dan paling pokok; sehingga Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa salam memerintahkan yang pertama kali untuk di dakwahkan adalah perkara tauhid; kemudian disusul kewajiaban shalat dan kewajiban-kewajiban lainnya. Karena tauhid itu merupakan perkara yang penting, yang pokok, yang besar dan mendesak, maka diperlukan waktu yang besar, waktu yang lama, perlu diulang-ulang dalam penyampaiannya, sehingga seseorang akan mendapatkan keyakinan yang kokoh, keimanan yang kuat dan tidak ada keraguan di dalamnya. Tidak cukup setahun atau dua tahun, kaenma Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam mendakwahkan tauhid kepada kaum Quroisy di Makkah selama 13 tahun, itupun hanya sedikit yang menerimanya, kemudian dilanjutkan di Madinah hingga akhir hayatnya.

Dan tauhid merupakan hak Alloh yang wajib untuk ditunaikan, hal ini sebagaimana sabda Nabi shalallahu ‘alaihi wa salam, yang diriwayatkan oleh sahabat Mu`adz bin Jabal rdu, dia menuturkan, Rasululloh bertanya kepadaku’ wahai Mu`adz! Tahukah kamu, apa hak Alloh yang wajib ditunaikan oleh seorang hamba? Dan hak hamba yang akan dipenuhi atau ditunaikan oleh Alloh subhanahu wa ta’ala? Maka Mu`adz menjawab, Alloh dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui. Maka Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, ‘Hak Alloh subhanahu wa ta’ala yang wajib ditunaikan seorang hamba adalah mereka mentauhidkan Alloh dalam beribadah dan tidak berbuat syirik (mensekutukan) Alloh subhanahu wa ta’ala dalam beribadah dengan sesuatu apapun. …‘ (HR. Bukhari dan Muslim)

Dan tauhid adalah kunci untuk masuk surga; sebagaimana syahadat adalah kunci seseorang untuk membuka pintu Islam, maka kalimat tauhid atau kalimat tahlil adalah kunci pembuka pintu surga. Jadi kunci surga bukan kunci yang terbuat dari perak, tidak pula terbuat dari besi atau tidak pula terbuat dari baja, atau tidak terbuat dari tembaga manapun. Tapi sekali lagi, bahwa kunci masuk surga adalah tauhid atau kalimat tahlil dengan mengamalkan yang menjadi konsekwensinya dan yang menjadi tuntutan kalimat tahlil itu sendiri.

Dan bentuk ibadah, bentuk tauhid yang paling besar adalah beriman dan beramal shalih. Beriman mencakup iman kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, yang mencakup iman kepada rububiyah-Nya, iman terhadap uluhiyah-Nya dan iman terhadap asma` dan sifat-Nya. Kemudian beriman kapada Malaikat Alloh, mencakup iman kepada tugas-tugasnya; iman kepada kitab-kitab-Nya, mencakup mempelajari, memahami isi kandungannya dan berusaha mengamalkannya, selama belum dihapuskan hukumnya; iman kepada rasul-rasul-Nya tanpa membeda-bedakannya; beriman kepada perkara yang ghaib dan beriman kepada takdir yang baik maupun yang jelek.

Sementara yang dimaksud dengan amal shalih adalah amalan yang dilakukan dengan ikhlash, hanya mengharap wajah Alloh subhanahu wa ta’ala, dan takut akan adzab-Nya; serta benar dalam pelaksanaannya, maknanya sesuai dengan contoh yang telah ditauladankan oleh Rasululloh shalallahu ‘alaihi wa salam, tidak mengurangi dan tidak menambahnya, apalagi merubah-rubahnya. Hal ini sebagaimana firman Alloh subhanahu wa ta’ala:
Siapapun yang beramal shalih dari kaum lelaki dan perempuan, sementara dia dalam keadaan beriman, maka Kami (Alloh) akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik (yang tentram, bahagia, nyaman dan berkecucupan), dan Kami akan memberikan pahala yang besar bagi mereka atas amal-amal yang mereka lakukan.’ (QS. )

Untuk itulah, marilah kita senantiasa berusaha semampu kita, usaha yang semaksimal mungkin untuk mengisi hidup kita dengan mengejewantahkan, merealisasikan dan mewujudkan tauhid dalam kehidupan kita, baik dengan pikiran, tenaga, waktu dan sebagian harta benda kita. Mudah-mudahan Alloh subhanahu wa ta’ala senantiasa memberikan pertolongan dan taufiqnya kepda kita semua, sehingga kita bias meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Alloh subhanahu wa ta’ala, dan memasukkan kita kedalam golongan orang-orang yang beruntung dan berbahagia di dunia hingga di akhirat kelak. Serta menghindarkan dan menjauhkan kita dari segala bentuk musibah, bencana dan kesengsaraan baik di dunia maupun di akhirat nanti. Amin. Wallohu a`lam bish showwaab.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s