Waktu Semuanya Baik

Sebagian masyarakat berkeyakinan, bahwa ada sebagaian waktu atau hari atau bulan ada yang naas, ada yang jelek, ada yang tidak baik dan ada yang sial. Sehingga mereka rela membatalkan atau menunda pelaksanaan hajatnya, karena takut sial, takut terkena bencana dan takut tidak beruntung. Lalu benarkah pendapat seperti ini? Lantas bagaimana menurut pandangan Islam?
Islam adalah agama yang sempurna, yang mengatur semua urusan manusia. Islam datang dari Sang Pencipta, Dzat yang maha Kuasa dan Bijaksana, Dzat yang mengatus segala urusan hamba-hambanya, sehingga tidak ada satu perkarapun yang terjadi di alam semesta ini melainkan sesuai dengan pengaturannya. Dan Alloh ta’ala adalah Dzat yang Maha Melihat dan Mengetahui, termasuk lebih mengetahui segala sesuatu yang dibutuhkan para hambanya, dibanding pengetahuan hamba-hamba itu sendiri terhadap diri mereka sendiri.

Waktu termasuk ciptaan Alloh ta’ala yang Maha Agung, maka waktu merupakan salah satu dari hamba-hamba Alloh ta’ala. Dan kita sebagai umat manusia, yang merupakan hamba-hamba pilihan, yang diberikan keistimewaan berupa akal, hendaklah kita gunakan untuk perkara-perkara yang baik dan tidak untuk merusak.
Alloh ta’ala telah memerintahkan kepada hamba-hambanya untuk berlaku adil, bijaksana, saling menghormati, saling tolong-menolong, dan kebaikan-kebaikan lainya. Dan melarang untuk berbuat zalim, aniaya, kerusakan, curang, menipu, dusta dan kejelekan-kejelekan lainnya. Alloh ta’ala juga melarang untuk mencela atau mengumpat kepada hamba-hamba Alloh yang lain; termasuk larangan mencela binatang dan larangan mencela waktu atau zaman. Dan syariat juga melarang untuk mencaci atau mencela makhluq yang tidak mempunyai perlawanan atau tidak bisa membalas; seperti nyamuk, semut, angin, hujan, hama dan sebagainya, termasuk waktu atau zaman. Karena pada dasarnya Alloh ta’ala tatkala menciptakan waktu, maka semua waktu itu dijadikan baik, hanyasaja disana ada waktu-waktu yang lebih baik, lebih utama dan lebih mujarab dibanding dengan yang lainnya. Dan Alloh ta’ala tidak menjadikan ada waktu yang jelek atau sial atau naas.
Karena itu; jika ada orang yang mengatakan bahwa ada hari naas, atau hari sial atau hari jelek, atau hari tidak beruntung dan yang semisalnya; maka sama saja dia telah mencela waktu. Dan orang yang mencela atau mencaci waktu itu sama dengan dia telah menyakiti dan mencela atau mencaci Dzat yang telah menciptakan dan mengatur waktu, yaitu Alloh ta’ala. Maka orang yang mencaci atau mencela waktu adalah orang yang tidak beradab dengan Alloh ta’ala, berakhlaq buruk dengan Alloh ta’ala. Layakkah seorang Muslim yang beriman kepada Alloh ta’ala, yang beribadah hanya kepada Alloh, lalu dia berbuat tidak sopan dan lancang kepada Alloh ta’ala, Dzat yang telah memberinya rizqi dan segala macam kenikmatan?.
Karena itulah, Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam telah melarang umatnya untuk mencaci atau mencela waktu, hal ini sebagaimana hadits yang diriwayatkan oleh Sahabat Abu Huroiroh radiyallahu ‘anhu, dia menuturkan bahwa Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda, “Alloh ta’ala telah berfirman, anak keturunan Adam sedang menyakiti Aku, dia (anak keturunan Adam) telah mencela waktu, padahal Aku adalah (pencipta, pemilik dan pengatur) waktu. Ditangan-Ku segala urusan, aku gantikan siang dengan malam.'”(HR Bukhari no. 4452, Muslim no. 4166, Abu Dawud no. 4590, dan Ahmad no. 4967)
Para ulama menjelaskan, bahwa makna hadits ini, Alloh ta’ala melarang untuk mencela waktu atau zaman, karena tidak memiliki kesalahan, dosa dan kejelekan, sehingga tidak layak untuk dicela. Maka siapapun yang mencela waktu sama saja dia telah mencela Dzat yang memiliki dan mengatur waktu tersebut. Dan itu merupakan perbuatan yang tidak beradab dengan Alloh ta’ala.
Karena itu bulan Muharam atau jawa dikenal dengan bulan Suro adalah bulan yang baik. Bahkan Alloh ta’ala menjadikan bulan Muharam (jawa: suro) ini sebagai bulan suci, bulan yang dihormati, yang diperintahkan untuk memparbanyak berbuat kebaikan, termasuk acara walimah, supitan, akad nikah, bikin rumah dan sebagainya. Dan lebih dilarang untuk berbuat kejelekan dan kejahatan, seperti mencuri, berzina, berdusta dan lain sebagainya. Jadi bukan bulan yang dilarang untuk mendirikan rumah, untuk melakukan akad nikah dan urusan lainnya. Bulan Muharam sama kedudukannya seperti bulan Dzul Qo`dah (jawa: longkang), Dzul Hijjah (jawa: besar) dan Rojab (jawa: rejeb). Lalu kenapa dibeda-bedakan? Padahal tidak ada dalil yang membeda-bedakannya.
Maka kalau terjadi suatu musibah atau bencana itu, bukan disebabkan karena waktu yang jelek atau sial atau naas. Tapi semua musibah atau petaka itu merupakan taqdir dan ketetuan Alloh ta’ala bagi hamba-hamba-Nya. Diantara mereka ada yang mendapat takdir baik dan yang lainnya mendapat takdir yang tidak baik. Itu semua berdasarkan pengaturan Alloh ta’ala yang maha Adil dan Bijaksana. Dan betapa banyak orang yang menikah pada bulan Muharam dan bikin rumah pada bulan Muharam mendapatkan kebaikan dan keberuntungan. Dan juga betapa banyak orang yang menghindari untuk menikah pada bulan Muharam dan juga membangun rumah atau yang lainnya, justru mendapatkan petaka, kesengsaraan dan bencana!.
Untuk itu marilah kita isi bulan yang suci ini, dengan memperbanyak amal kebaikan, meningkatkan amal sholih, dan mencari bekal akhirat sebanyak-banyaknya. Diantara amalan yang bias kita lalukan pada mulan yang mulia ini adalah:

  1. Shiyam Asy-Syu`aro` (tanggal 10 dan sehari sebelumnya, tanggal 9 Muharam) : Para ulama sepakat bahwa hukum puasa ‘Asyuro adalah sunnah, dan mereka berbeda pendapat mengenai hukumnya pada masa permulaan Islam, sebelum disyariatkannya puasa Ramadhan. Abu Hanifah berpendapat bahwa pada awalnya diwajibkan kemudian dihapus, dan diriwayatkan dari Imam Ahmad akan sunnahnya, begitu juga ucapan jumhur ulama, karena Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam tidak memerintahkan secara pasti tentang puasa tersebut, bahkan beliau bersabda :Hari ini adalah hari ‘Asyuro (tanggal 10 Muharram), dan saya puasa pada hari tersebut, siapa yang suka maka hendaklah dia puasa dan siapa yang suka dia berbuka (tidak berpuasa’. (HR Bukhari, Muslim, Turmudzi, Ibnu Majah, Darimi, Malik dan Ahmad)Dan juga disunahkan pula, untuk berpuasa pada tanggal 9 Muharam, yaitu shiyam satu hari sebelumnya atau shiyam tanggal 11 Muharam, yaitu satu hari setelahnya. Karena Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda: “hendaklah kalian berpuasa pada hari tanggal 10 Muharam, dan selisihilah atau tampilah beda dengan orang-orang Yahudi, maka berpuasalah juga pada tanggal sehari sebelumnya atau sehari setelahnya.” (HR. Ahmad no. 2047) Dan juga hadits riwayat Muslim dari sahabat Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu, dia berkata : Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam bersabda : ‘Jika saya masih hidup pada tahun depan, saya akan berpuasa pada tanggal sembilannya (bersama tanggal sepuluh)’, dan dari Ibnu Abbas juga, beliau bersabda ‘Puasalah kalian pada tanggal sembilan dan sepuluh, bedakanlah dari orang-orang Yahudi’. Dan juga hadits Ibnu Abbas radiyallahu ‘anhu, dia menuturkan: ‘Aku tidak pernah melihat Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam memperhatikan puasa dan mengutamakannya atas yang lainnya, kecuali hari ini, yaitu hari ‘Asyuro, & bulan itu, yaitu bulan Ramadhan’. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah berkata: ‘Disunnahkan bagi yang puasa pada hari ‘Asyuro (10 Muharam) untuk berpuasa pada tanggal sembilannya, karena hal tersebut adalah perintah Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa salam yang paling akhir’.Adapun puasa tanggal sembilannya adalah untuk menjaga puasa ‘Asyuro, juga untuk menunjukkan sikap berbeda dari orang-orang Yahudi yang juga berpuasa hanya pada hari itu saja. Dengan menggabungkan kedua hari itu maka syariat tersebut menjadi berbeda dari ajaran Yahudi. Adapun puasa ‘Asyuro itu sendiri karena pada hari tersebut terjadi beberapa kejadian yang baik, diantaranya : Selamatnya Musa alaihissalam dan para pengikutnya serta tenggelamnya musuh Alloh, Fir’aun beserta kaumnya, begitu juga terjadinya beberapa tanda-tanda kebesaran Alloh terhadap makhluknya, sesuatu yang layak untuk di syukuri.Imam Muslim meriwayatkan dari sahabat Abi Qatadah radiyallahu ‘anhu, bahwa seseorang bertanya kepada Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam tentang shiyam ‘Asyuro (10 Muharam), maka beliau bersabda: ‘Saya berharap agar Alloh ta’ala menghapus dosa-dosa setahun sebelumnya’Sesungguhnya puasa ‘Asyuro adalah sunnah Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam, jika diamalkan dan didakwahkan dengan ucapan dan perbuatan, maka hal tersebut merupakan ibadah yang sangat utama kepada Allah, karena siapa yang menghidupkan sunnah, mengamalkannya dan menyebarkannya diantara manusia maka baginya dua pahala, pahala dia beramal dan pahala menghidupkan sunnah tersebut, maka selayaknya bagi setiap muslim untuk melakukannya.Tapi disayangkan, hari ‘Asyuro, hari mulia yang didalamnya Allah selamatkan Musa alaihissalam dan para pengikutnya dari Firaun dan kaumnya, kemudian dirubah oleh sebagian kaum muslimin di sebagian negri-negri Islam menjadi acara kendurian. Para ulama telah menerangkan semua itu bukan bagian dari ajaran Islam, akan tetapi lebih dekat kepada ajaran jahiliyah. Dan ada sebagian orang menghindari perhiasan dan kesenangan, dalam rangka memperingati terbunuhnya Husain radiyallahu ‘anhu. Benar, terbunuhnya beliau membuat kaum muslimin sangat sedih, akan tetapi apakah itu berarti kita harus selalu mengorek luka lama dan terus bersedih? Tidak, sebab yang demikian itu akan menjadikan kaum muslimin berpecah belah dan menumbuhkan fanatisme, serta membiarkan musuh-musuh mengambil kesempatan masuk didalamnya. Dan membuat makanan yang berbeda dari biasanya, seperti dengan menambahkan biji-bijian atau yang lain, atau mengganti baju dan melapangkan nafkah bagi keluarga, atau membeli kebutuhan setahun pada hari itu, atau melakukan ibadah tertentu seperti shalat, menyembelih hewan, menyimpan daging korban untuk dimasak pada hari itu, memakai celak mata, saling bersalam-salaman, saling berziarah, mengunjungi masjid atau kuburan, atau menampar pipi dan merobek kantong baju sebagai tanda bela sungkawa adalah menyerupai adat jahiliyah. Semua itu adalah perbuatan kemungkaran yang tidak diajarkan oleh Rosululloh shalallahu ‘alaihi wa salam, Khulafaurrasyidun dan orang-orang sesudahnya, juga tidak ada para imam yang menganjurkannya.
  2. Banyak berdzikir kepada Alloh ta’ala, shiyam 3 hari pada tanggal 13 – 15 Muharam, shiyam senin kamis dan lain sebagainya. Wallohu a`lam bish-shawwaab.

3 responses to “Waktu Semuanya Baik

  1. aku ingin mengomentari bagaimana cara buat memenit waktu yang baik??????????mohon dibalas ya.,,,,,,

  2. bukankah Allah menciptakan segala sesuatu itu berpasang-pasangan. conthnya : laki-laki-perempuan, siang-malam, dsb. berarti jika ada hari baik berarti ada juga hari buruk. tq

    • Allah menciptakan segala sesuatunya tidak ada yang buruk.. yang dimaksud hari buruk di sini adalah dari sisi manusia/makhluk…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s